MENG-INDONESIAKAN OBAMA
Mohammad Hamdan
Pemerhati Indonesia Soft Power Studies
Calon Anggota DPD Banten 2009-2014
Lalu Obama pun menjadi Presiden, Sebuah Negeri Adidaya yang kita kenal demikian berpengaruh dalam berbagai konstelasi politik ekonomi, bahkan sosial dan Budaya. Setelah melalui Inagurasinya untuk dilantik secara resmi maka lengkap sudah ia menjadi Presiden Ke 44.
Ini situasi yang menantang tentunya tidak saja bagi dunia, bahkan juga bagi Obama sendiri, yang di warisi problem ekonomi yang berdampak global. Dan tentu Indonesia pula sedikit banyak terseret pada arus hilir setidaknya.
Sebagai negeri yang pernah di ”singgahi” oleh Presiden Ke 44 ini sepanjang sejarah fase kehidupannya Indonesia boleh berbangga, sebab difase-fase menentukan perkembangan psikologisnya tersebut Ia memberikan perhatiannya yang sangat besar. Boleh jadi ini tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada perhatiannya bagi Indonesia
TENTANG MIMPI DARI SANG ”AYAH”
Selain jika di turut mengikuti jejak sang ibu yang mengambil banyak studi tentang perkembangan Indonesia. Juga sampai satu titik menurut Maya Soetoro (adik kandungnya satu Ibu) ternyata Obama terakhir kali datang ke Indonesia adalah tahun 1991, atau tatkala ia berumur 28 tahunan dan ia menyelesaikan sebuah buku Dream From My Father.
Ini menarik jika boleh berseloroh maka siapakah ”AYAH” yang dimaksud? ayah biologisnya atau ayah ideologisnya. Atau yang dimaksud sebagai ”AYAH” dibuku tersebut adalah simbol ”mentor”nya. Pembimbingnya atau arahan hidupnya, tentu saja hal ini seutuhnya hanya diketahui oleh Obama sendiri,
Meski demikian, lagi-lagi Indonesia boleh saja berbangga, karena menurut Maya Soetoro, sampai tahun itu pula dapat memahami masyarakat Indonesia secara lebih lengkap. Seperti yang ia ungkapkan sendiri pada adiknya tersebut. Di Indonesialah Obama Belajar seni memahami dan dibumi Nusantara ini pulalah ia belajar bernegosiasi dan berkawan dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Indonesia adalah tempat pertama ia mempelajari fleksibilitas. Lebih jauh lagi, Indonesia adalah tempat pertama ia memahami kompleksitas dunia. Seperti yang dituturkan Maya Soetoro, Lalu apa artinya ini buat kita bangsa Indonesia.
Indonesia dengan keanekaragaman kekayaan dan yang dengan sedikitnya kekayaannya adalah keanekaragaman itu sendiri. Menurut pendapat saya mengajarkan antusiasme pada Obama, bahwa dirinya adalah bagian dari keanekaragaman dan pemahaman keanekaragaman baik ke dalam diri Obama ataupun tentang pandangannya keluar memahami kompleksitas dunia tersebut.
Intinya Obama secara matang dapat mengelola dunia dengan multi perspektif. Dan secara sangat kebetulan sekali di dalam diri Obama sendiri mengalir Darah keanekaragaman tersebut. Ibu biologisnya An Dunham wanita ras kulit putih sedangkan Ayah Biologisnya adalah Arsitek ekonomi dari Kenya. Tentu dengan ras negro. Sedangkan Ayah tiri yang menjadi pembimbingnya selama usia belasan dan dikenalnya hingga kemudian ia merampungkan Buku tersebut adalah orang Indonesia, berlatar suku jawa, namun mengenal dunia metropolitan karena bersekolah ke Amerika hingga akhirnya berjodoh dengan Ibunya. Dan membawa serta ia dalam pengasuhan. Di Indonesia sendiri ia tinggal di Jakarta yang tentu saja Pluralitasya tak bisa terabaikan untuk memperkaya Nuansa pemikiran Obama. Dan sesekali singgah ke tempat orangtua ayah tirinya di Jogja.
MENGINDONESIAKAN OBAMA
Tidak seperti nama sebuah kota di Jepang sana yang memiliki Kesamaan dengan Presiden Amerika ke 44 ini, Mengindonesiakan Obama lebih berarti kepada menginventarisasi segala sesuatu yang berhubungan dengan mantan ”anak menteng” tersebut dan kemudian memposisikan serta memastikan kehadiran Obama menjadi bagian teramat penting dengan klaim yang pada akhirnya justru mampu ”mendongkrak” Indonesia dimata dunia.
Inilah kali pertama Indonesia disebut demikian banyaknya sebanyak berkait erat dengan Presiden Amerika yang fenomenal di Abad 21 ini. Seiring dengan popularitas Obama yang mendunia, teramat sayang jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dan menurut hemat saya inilah momentum emas. Golden moment yang rasanya keterlaluan. Jika harus hilang begitu saja.
Saya memiliki seorang sahabat bernama Stella Rissa, seorang perancang muda berbakat yang talentanya membuat saya berdecak kagum, karena dalam hitungan bulan saja ia sudah mulai mendunia bukan lagi sekedar menasional. Dan terakhir saya kontak ia sedang berada di Bali untuk membangun Pabriknya.
Belakangan saya tergelitik untuk mengajukan sebuah proposal pada dia untuk membuat merek STELLA RISSA-nya misalnya untuk captive jas, kemeja kaum Adam bernama STELLA ”O” RISSA, sehingga dengan sedikit silabus redaksional dan alasan disana-sini misalnya mungkin juga sedikit keluar dari pakem dunia fashion yang sudah mapan. Maka jadilah merek STELLA ”O” RISSA.
Dibumbui dengan Aksen O di tengahnya mengikrarkan bahwa Stella Rissa harus mendunia dengan segala perbedaan dan keanekaragamannya tentu saja. Dan modalitas keragaman adalah Indonesia sekali. Sehingga dengan mudah Dunia mengasosiasikan dengan Indonesia.
Atau dalam konteks pendidikan Indonesia bisa menjadi Par of Excelency dmana kita bisa saja membangun Universitas bertaraf Internasional dengan nama Obama misalnya dengan fokus pendidikan pada pembangunan sosial ekonomi yang membangun keberagaman dan teknologi yang menyelesaikan persoalan global kemanusiaan.
Untuk wisata mantan anak menteng ini bisa didaulat menjadi nama sebuah kompleks wisata alam The Obama Jungle Park misalnya. Dan ini bertaraf internasional sehingga pembukaannya dihadiri oleh Sasha and Malia, kedua puteri Obama, untuk mengingatkan mereka bahwa Ayahnya pernah bermukim di Indonesia.
Dan kepada dunia Internasional pesan yang kita sampaikan adalah ; jika puteri Presiden Amerika saja berlibur ke Indonesia, tentu saja dunia harus berlibur ke Indonesia, buakn tidak mungkin Genting Island akan lewat begitu saja dan pariwisata akan mengalami Booming. Inilah yang mesti kita lakukan agar Indonesia menjadi Pilihan dunia untuk berlibur. Indonesia Exotica..A place the world Can Rest.
Mengindonesiakan Obama tentu tidaklah semudah wacana dalam tulisan ini, namun setidaknya saya menghimbau, untuk mengingatkan betapa kita berada dalam situasi yang sama menantangnya dengan tantangan Obama mengairahkan ekonomi Amerika. Bukan tidak mungkin bahkan sebuah progres adalah sama pastinya dengan kemajuan itu sendiri tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Memang tidak mudah, namun teramat tidak pintar apabila kita tidak manfaatkan, Indonesia adalah keberagaman dan Obama adalah Aliran keberagaman baru dan Icon keberagaman baru dunia sehingga untuk saling melengkapi dan saling menghargai meski demikian tulisan ini terlepas dari apapun kebijakan Obama Nantinya namun setidaknya Indonesia bisa mengambil keuntungan secara tunai dan meyakinkan bahwa kita Bisa. AYO KITA BISA. YES WE CAN!